Tradisi PPS Betako Merpati Putih

Acara Tradisi Merpati Putih

PPS Betako Merpati Putih Sekali dalam setiap tahun menyelenggarakan acara Tradisi yang diikuti oleh perwakilan cabang-cabang Merpati putih baik yang ada di dalam negeri maupun dari luar negeri yang dipusatkan di pantai Parangkusumo Bantul Yogyakarta.

Tradisi adalah pelestarian sejarah keilmuan Merpati Putih. Tradisi pertama kali dilaksanakan pada tahun 1971 menjelang pergantian tahun baru jawa yaitu menjelang 1 Suro. Kemudian berganti menjadi tanggal 31 Desember menjelang tanggal 1 januari, dan kemudian akhirnya Tradisi kembali ditetapkan pelaksanaannya pada bulan Suro/Muharram.

Prosesi Acara Tradisi
Pada Awalnya acara Tradisi diawali pembukaan di alun-alun selatan dengan acara perguruan kemudian berangkat menuju Parangkusumo salah satu pantai di Yogyakarta. Untuk menghemat waktu dan biaya saat ini seluruh rangkaian acara di mulai dan di pusatkan di lapangan dan pantai yang berada di Parangkusumo Bantul Yogyakarta.

Pelaksanaan Tradisi pertama kali (1971) diberangkatkan dari Bumijo pada pagi hari yang diikuti sekitar 50 orang dari Cabang Yogyakarta sendiri. Perjalanan dari Bumijo-parangkusumo ini ditempuh dengan berjalan kaki pulang pergi. Dalam perjalanan menuju Parangkusumo mereka menyeberangi arus kali Opak karena pada waktu itu belum ada jembatan Kretek

Pada Bulan Desember 1978 dalam perjalanan melewati arus kali Opak yang cukup deras karena musim penghujan Mas Poeng menunjuk lima orang anggota untuk mencari route jalan dalam melintasi kali Opak, tapi menjelang ujung sungai terjadi musibah, 3 dari 5 orang pemandu jalan tersebut terseret arus kali opak. dari ketiga orang tersebut dua orang bisa diselamatkan dan satu orang yaitu Mas Ginanto hilang terseret arus Kali Opak dan tidak dapat diketemukan, meskipun sudah dilakukan pencarian dengan menyusuri kali Opak sampai laut selatan dan menurunkan Marinir Amphibi (KIPAM : Komando Inti Para Amphibi) dari Surabaya dan anggota-anggota RPKAD/KOPASSUS dari Grup II Kartosuro yang kebetulan pada waktu itu ikut acara Tradisi dan dibantu sepenuhnya oleh Tim SAR dan Pencinta Alam DIY. Oleh karena itu dalam acara Tradisi selanjutnya tidak melewati kali Opak dan naik kendaraan dengan memutar melewati jembatan Siluk dan turun di kaki gunung Botak, kemudian berjalan melewati gunung Botak menuju pantai Parangkusumo. Perjalanan melewati gunung Botak ini sebagai pengganti rute perjalanan Yogya-Parangkusumo. Dan dalam acara-acara selanjutnya sebelum melewati gunung Botak selalu diadakan acara Tabur Bunga di Kali Opak guna mengenang Mas Ginanto yang hilang di kali Opak pada waktu itu.

Dalam pelaksanaan Tradisi sekarang, setelah acara pembukaan peserta dibagi menjadi dua. Rombongan pertama terdiri dari Pewaris, Senior dan perwakilan cabang-cabang mengadakan acara Nyekar ke makam Bapak Saring HP (Sang Guru) dan Ibu Saring HP di Ngulakan Wates, Kulon Progo. Sedangkan rombongan kedua, Tabur Bunga di kali Opak. Kedua rombongan akhirnya bersama-sama melintasi gunung Botak menuju Parangkusumo. Prosesi selanjutnya setelah sampai di Parangkusumo, seluruh peserta melakukan jamasan dimana tersedia tiga kuali yang berisi air bersih, air merang ketan hitam, dan air bunga. Air merang dimaksudkan sebagai pembersihan diri peserta dan air bunga sebagai pengharum, sehingga dengan berbekal kebersihan diri seluruh peserta dapat mengikuti seluruh rangkaian acara Tradisi dengan hati, jiwa dan pikiran yang bersih.

Acara Inti Tradisi
Tradisi pertama kali dilakukan dengan tiga inti acara yaitu :
1. Menghantar matahari terbenam
Dengan refleksi dari seluruh peserta Tradisi dimana kita sebagai seorang yang beragama ciptaan Tuhan dengan seiring terbenamnya matahari , seluruh peserta merenung melihat kedalam diri kita kekurangan-kekurangan kita itu seiring dengan terbenamnya matahari serta mengucap puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas kenikmatan yang telah diberikan-Nya selama satu tahun.
2. Renungan Malam
Renungan malam dilakukan menjelang tepat pukul 00.00 / tengah malam yang pada intinya yaitu mempersiapkan diri menuju hari yang lebih cerah dengan kebersihan diri.
3. Menyambut Matahari Terbit
Pada intinya menyambut matahari terbit dimaksudkan sebagai refleksi diri kita untuk dapat menapaki hari esok lebih baik dari hari kemarin. Seiring munculnya matahari dari ufuk timur maka bersama itu pula kita siap menghadapi hari ini dan selanjutnya dengan lebih baik dan bermanfaat, baik untuk diri sendiri maupun untuk orang lain.

Acara Tradisi Merpati Putih pertama kali dilakukan yaitu menjelang pergantian tahun baru. Tetapi Tradisi sekarang ini tidak dilakukan pada tangal 1 Suro/ 1 Januari karena kondisi sekarang di Parangkusumo banyak masyarakat pendatang yang memenuhi areal Parangkusumo pada tangal tersebut sehingga bila tetap dilaksanakan pada tanggal tersebut akan mengurangi/mengganggu kenikmatan acara inti tersebut.

Untuk Acara Tradisi sekarang setelah renungan malam acara dilanjutkan dengan perjalanan malam/napak tilas ketujuh tempat, dimaksudkan sebagai uji kesiapan fisik dan mental dari peserta Tradisi dalam menempuh perjalanan yang pernah dilakukan Dewan Guru dan senior . Ketujuh tempat tersebut yaitu :
  • Sawangan/tempuran
  • Papan Suwung
  • Parangkusumo
  • Parangtritis
  • Parangendog
  • Gua Langse
  • Makam Syeh Maulana Maghribi dan syeh Belabelu
Dalam rangkaian menghantar matahari terbenam dan menyambut matahari terbit selalu diawali dengan dan diakhiri dengan Garuda Benteng yang mempunyai maksud membentengi diri kita dari gangguan yang tidak kita inginkan serta faktor-faktor negatif dari alam, karena dalam garuda Benteng tersebut dilakukan di alam terbuka. Disini sebenarnya Garuda benteng sebagai visualisasi doa mohon perlindungan kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Jadi Tradisi intinya melakukan rangkaian ketiga acara tersebut sedangkan acara-acara yang lain adalah sebagai pendukung dari prosesi acara inti tersebut

Minum Air 7 Sumber

Air 7 sumber mempunyai rasa dari kandungan yang berbeda-beda dan Gentong yang dipergunakan berasal dari tanah liat yang dikumpulkan dari perwakilan cabang-cabang di seluruh Indonesia yaitu dari Aceh sampai Irian Jaya. Makna yang dapat ditangkap adalah Tradisi merupakan wadah pertemuan bagi seluruh anggota Merpati Putih yang berbeda status, latar belakang budaya dan sebagainya. setelah bertemu di tempat dan waktu yang sama menyatukan hati dan pikiran demi persatuan dan kesatuan yang erat antar anggota Merpati Putih walaupun terpisahkan oleh jarak dan waktu.

Secara ilmiah air dari 7 sumber mengandung bahan-bahan/kandungan mineral yang berbeda maka kandungan tersebut akan saling melengkapi sehinga terpenuhi semua kebutuhan unsur-unsur tubuh demikian pula juga anggota Merpati Putih antara satu dengan yang ain saling mengisi kelebihan dan kelemahan masing-masing sehingga tercipta kesatuan dan kekuatan anggota Merpati Putih.
Angka 7 dalam filosofi jawa, angka ganjil dipakai untuk menggenapi angka ganjil yang lain. Makna yang dapat ditangkap sama pula dengan harapan agar antar anggota Merpati Putih saling melengkapi satu dengan yang lain.

Tinjauan Tradisi dari Sudut keorganisasian

Dilihat dari segi keorganisasian tujuan Tradisi adalah :
  • Pertemuan dan koordinasi Dewan Guru, senior, anggota dan pengurus Merpati Putih yang waktunya sudah ditentukan untuk dapat berkoordinasi antar cabang dan konsultasi keilmuan dengan Dewan Guru, sehingga diharapkan semua Cabang mengirimkan anggotanya atau perwakilannya.
  •  Pertemuan dan silaturahmi dari seluruh anggotanya untuk dapat saling kenal dan tukar pengalaman.
    pelantikan kenaikan tingkat tertentu dan ujian kenaikan tingkat tertentu, latar belakangnya yaitu menjamin persatuan kesatuannya khususnya dimulai tingkat tertentu dan akhirnya terjalin persatuan seluruh anggota.
  • Penyeragaman gerak dari seluruh rangkaian tata gerak yang diajarkan, sehingga secara nasional tidak ada perbedaan yang mendasar dari materi tata gerak.
  • Presentasi perkembangan keilmuan dari ilmu Merpati Putih memungkinkan untuk tumbuh dan berkembang sehingga bila ada perkembangan dapat diungkapkan dan dikonsultasikan dengan Dewan Guru dalam acara Tradisi.
Seluruh rangkaian acara Tradisi ditutup dengan acara Perguruan yang sebelumnya diawali dengan pelepasan sepasang burung Merpati oleh Dewan Guru.

Sampai bertemu di Acara Tradisi PPS BETAKO MERPATI PUTIH.

SUMBANGSIHKU TAK BERHARGA NAMUN KEIKHLASANKU NYATA

Sumber : Brosur Panitia Tradisi 1998 yang disarikan dari Para Senior Merpati Putih Cabang Yogyakarta



Top